PLURALITAS MUSHAF AL-QUR’AN ERA NABI DAN SAHABAT
A. Konsep Wahyu, al-Qur’an dan Mushaf
Untuk dapat memahami terjadinya perbedaan mushaf secara
logis dan kritis, maka harus dipahami lebih dahulu konsep wahyu, al-Qur’an dan
mushaf itu sendiri.
1. Wahyu
Wahyu dalam bahasa Arab berakar dari fi’il madhi “Waha”,
yang berarti penyampaian pengetahuan kepada orang lain secara samar dan
rahasia, dan orang itu memahami apa yang diterimanya.Substansi
pewahyuan adalah penyampaian informasi secara tersembunyi, dan oleh karena itu
maka apa yang diwahyukan hanya dapat dipahami oleh Tuhan yang menyampaikan dan
Rasul yang menerimanya. Sedangkan substansi informasi pengetahuan tersebut
tidak lain adalah ajaran-ajaran dari Allah SWT sebagai petunjuk untuk kehidupan
umat manusia.
Dalam perdebatan ilmu kalam selalu muncul persoalan apakah
zat Allah SWT memiliki sifat atau tidak. Namun hampir semua ilmuawan muslim
sepakat bahwa wahyu Allah SWT adalah azali, tanpa lafaz yakni tidak ada awal
dan tidak ada akhir, tidak menggunakan bahasa tertentu (la lughat),
tidak berhuruf (la harfa), dan tidak berbentuk suara tertentu (la
shauta). Kesimpulannya: Wahyu adalah kalam Allah atau firman Allah tanpa
lafaz (suara, huruf, dan bahasa). Oleh karena proses pewahyuan terjadi
demikian rahasia, tanpa bahasa verbal dan di alam azali, maka wahyu berada di
luar analisis ilmiah.
Bentuk-bentuk wahyu beragam, yaitu berupa isyarat
(Q.Surat Maryam : 11), ilham, (Q. Surat Qashash: 7), bisikan,
(Q. Surat Al-An’am : 12) dan (4) pesan (Q. Surat Al-Anfal: 12).
2. Al-Qur’an
Kebanyakan ulama, seperti Subhi Al Salih,
mendefinisikan Al-Qur'an sebagai “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta
diriwayatkan dengan mutawatir di mana membacanya termasuk ibadah”.
Wahyu Tuhan yang diterima oleh Rasul SAW sebagai pengemban
amanah harus disampaikan kepada manusia. Wahyu atau pesan Tuhan, yang
semula tanpa lafaz dan hanya dipahami oleh Rasul SAW, ketika disampaikan kepada
manusia harus menggunakan lafaz bahasa tertentu, agar dapat diterima dan
dipahami oleh mereka. Dalam konteks al-Qur’an ini, sistem bahasa yang digunakan
adalah bahasa Arab karena memang audiens awal adalah masyarakat Arab.
Jika proses komunikasi Tuhan dengan Rasul SAW, atau
peyampaian wahyu, menggunakan bahasa rahasia, bahasa parole, maka
komunikasi atau penyampaian wahyu kepada masyarakat Arab sudah menggunakan
bahasa natural keduniaan, dan itulah bahasa masyarakat
Arab. Dalam teori Muhammad Syahrur, proses penurunan wahyu ketika masih di alam
azali dari Allah SWT kepada malaikat di langit dunia disebut dengan al-Tanzil.
Sedangkan proses penurunan wahyu dari langit ke alam dunia, oleh Syahrur,
dinamakan al-Inzal.
Wahyu yang sudah diterima oleh Rasul SAW lalu disampaikan
(dibacakan) kepada manusia dalam bentuk bahasa Arab inilah yang kemudian
dinamakan al-Qur’an. Dengan kata lain, al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang sudah
terucap secara lisan dan dibaca dalam bahasa Arab.
Dalam membaca al-Qur’an secara lisan ini, tentu audiens
masyarakat Arab memiliki kemampuan, keahlian, pengetahuan dan kebiasaan
berbeda. Oleh karena perbedaan itu maka dapat dipahami dan dimaklumi jika
kemudian Rasul SAW memberikan keleluasaan dan kebebasan kepada para sahabat
untuk berbeda dalam membaca lafaz-lafaz al-Qur’an sesuai dengan dialek-dialek
bahasa Arab yang beragam, sepanjang masih memiliki tujuan makna yang sama.
Kelonggaran yang diberikan oleh Nabi SAW dalam membaca lafaz-lafaz al-Qur’an
tertuang dalam sabda beliau yang berbunyi: “ Sesungguhnya al-Qur’an
ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah al-Qur’an itu dengan cara mudah”.
Penyampaian pesan Allah SWT, dalam bentuk bacaan al-Qur’an
kepada manusia tentunya masih menggunakan bahasa lisan atau bahasa oral.
Setiap kali menerima wahyu, maka Nabi SAW kemudian membacakannya kepada para
sahabat, dan mereka pun menghapalnya. Tradisi lisan atau menghapal dalam
masyarakat Arab merupakan tradisi mulia dan lebih populer melebihi tradisi
tulis. Ketika bacaan al-Qur’an dalam bentuk lisan beralih dan dituangkan ke
dalam bentuk tulisan maka muncul konsep mushaf.
3. Mushaf
Kata Mushaf atau Shuhuf berasal
dari bahasa Arab Selatan kuno. Kata shuhuf bentuk jamak dari shahifah
yang berarti selembar bahan yang digunakan untuk tempat menulis, tetapi
berbagai lembaran tersebut masih terpisah-pisah tidak terjilid.
Mushaf al-Qur’ān
adalah berbagai lembaran yang memuat catatan tentang
ayat-ayat al-Qur’ān yang masih terpisah-pisah dan tidak dijilid atau dibukukan
dalam satu buku khusus.
Jadi mushaf adalah kumpulan wahyu al-Qur’an dalam bentuk
catatan tertulis. Dalam konteks ini, jika al-Qur’an bersifat terbuka maka
mushaf merupakan wahyu tercatat yang sudah tertutup. Al-Qur’an dibaca dan
dihapal secara lisan oleh para sahabat Nabi dengan berbagai bacaan yang berbeda,
baik baris/harakat, huruf, maupun lafaz/kata. Sedangkan mushaf merupakan bacaan
dan catatan al-Qur’an menurut versi tertentu yang bentuknya sesuai dengan
pengetahuan atau kebiasaan sahabat yang mencatatnya.
Pada awalnya bentuk mushaf al-Qur’an beragam atau
bermacam-macam. Namun nantinya pada era khalifah Utsman mushaf yang beragam itu
diseragamkan menjadi satu mushaf, yang sampai saat ini dikenal sebagai Mushaf
Utsmani. Ketika standarisasi mushaf terjadi, maka dampaknya tidak sebatas
penyeragaman bentuk, tetapi juga berpengaruh terhadap pembatasan dalam
pemahaman dan keleluasaan dalam mengungkapkan bacaan al-Qur’an dan
pemaknaannya. Di sinilah Arkoun menegaskan bahwa penyeragaman mushaf sebenarnya
berakibat kepada upaya penyeragaman pemahaman, dan lebih jauh lagi pembakuan
mushaf tersebut juga dapat berakibat kepada pembekuan pemikiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar